Monday, May 2, 2011

Menjadi Mulia dengan Memuliakan Diri di Hadapan Allah

SEORANG  anggota Brimob Polda Gorontalo bernama Briptu Norman Kamaru --yang sebelumnya namanya tidak terkenal di tingkat lokal-- mendadak menasional bak artis. Negeri kita memang aneh, hanya karena orang  bergoyang ala India, tiba-tiba banyak orang, baik di jalan-jalan, di parlemen ikut tersihir. Termasuk media televisi kita.
Berita tentang dirinya  dimuat berhari-hari di media massa cetak,  TV maupun online. Berkat kemampuannya menirukan jogednya Shahrukh Khan videonya di Youtube diunduh 1.035.359 kali (sampai Jumat, 8 Maret 2011), membuat namanya lebih populer dibanding bintang film India Shahrukh Khan yang membintangi film “My Name is Khan” yang memecahkan rekor Box Office di Inggris dan Amerika.
Atas jasa media –termasuk TV pula--- ia disanjung banyak orang, diundang beberapa pejabat, mendapatkan beasiswa, dianggap sebagai pahlawan karena telah menjadikan polisi sebagai sosok yang lebih humanis di mata masyarakat dan menciptakan suatu pencitraan yang baik bagi ratusan ribu polisi teman-temannya. Walhasil, ia menjadi mulia di mata masyarakat.
Karena Ketaqwaan
Menjadi mulia adalah keinginan setiap manusia, namun tidak setiap manusia mengetahui hakekat kemuliaan. Kemuliaan yang hakiki adalah mulia di sisi Allah.
Mulia di sisi Allah pasti  mendatangkan keberkahan yang sebenarnya. Lalu ukuran apakah yang bisa digunakan untuk menilai seseorang mulia di sisi Allah atau tidak?
Satu-satunya ukurannya adalah ketaqwaaan. Jika seseorang sudah mencapai derajat taqwa, dia telah mulia di sisi Allah. Semakin tinggi tingkat ketaqwaannya, semakin mulia kedudukannya di sisi Allah. Sekadar ber-Islam dan beriman tanpa bertaqwa bukanlah ukuran mulia di sisi Allah. Apatah lagi harta, kedudukan,  jabatan, profesi, gelar akademik dan gelar-gelar lainnya, prestasi akademik dan prestasi-prestasi lainnya, pakaian kebesaran dan pakaian-pakaian lainnya, popularitas, ketampanan atau kecantikan, dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)
Dengan berpedoman pada wahyu-Nya tersebut, manusia bisa melihat dirinya sendiri dan orang lain secara kasat mata apakah telah mencapai derajat taqwa dan seberapa tinggi tingkat ketaqwaanya.
Salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa dalam al-Quran adalah “yuqiimuun ash-sholah” (mendirikan shalat) sebagaimana tersebut dalam dua ayat berikut ini.
“Kitab  (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]:2-3)
Kata ash-sholah di dalam al-Qur’an bergandengan dengan kata kerja dasar aqooma (mendirikan) bukan ’amala (mengerjakan). Dalam ayat tersebut di atas, kata yang bergandengan dengan kata as-sholah adalah yuqiimuna (mendirikan), bukan ya’maluuna (mengerjakan). Yang dimaksud dengan mendirikan shalat adalah memelihara atau menjaga shalat, dalam arti tidak melalaikannya. Definisi tidak melalaikan shalat adalah sebagai berikut: Shalat wajib lima waktu tidak ada yang bolong. Melakukan setiap shalat dengan khusyu’ dan tuma’ninah. Melaksanakan shalat fardhu tepat waktu (tidak menunda-nunda) dan bagi laki-laki wajib berjama’ah di masjid (musholla/surau/nama lainnya).
Selain mendirikan shalat. ciri orang bertaqwa lainnya yang juga penting untuk dikemukakan di sini adalah sedikit tidur di malam hari dengan cara segera tidur di awal malam dan segera bangun di tengah malam atau di akhir malam sebelum fajar menyingsing untuk beribadah kepada Allah dengan mendirikan shalat Lail (tahajjud), membaca al-Qur’an, berdzikir, memanjatkan do’a, dan memohon ampun kepada Allah.
Al-Quran menyebutkan;
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:15-18)
Sedangkan ciri lain orang yang paling bertaqwa adalah menafkahkan hartanya di jalan Allah.
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.” (QS. Al-Lail [92]:17-18)
Kemudian, keuntungan apa saja yang pasti diperoleh oleh orang-orang bertaqwa?
Salah satu keuntungan yang didapatkan orang bertaqwa di dunia adalah ketika ajal datang kepadanya malaikat mencabut nyawanya dalam keadaan baik. Ketika meninggal, setiap orang berbeda keadaannya, ada yang baik dan ada yang tidak baik. Baik atau tidak tergantung masing-masing individu, apakah telah mencapai derajad taqwa atau tidak.
“(yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".” (QS. An-Nahl [16]: 31-32)

Di akhirat, keuntungan yang akan didapatkan orang-orang bertaqwa adalah memperoleh surga yang memang sudah disediakan khusus oleh Allah untuk mereka.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali I’mron [3]:133)
Dengan mengetahui keberkahan yang pasti diperoleh oleh orang-orang yang bertaqwa yang tidak bisa diragukan lagi pasti mulia di sisi Allah apakah kita masih mengejar kemuliaan diri dan memuliakan manusia yang dimuliakan menurut kaca mata dan di mata manusia?
Karenanya, marilah kita jadikan diri kita, apapun profesi kita. Baik sebagai pemimpin, pejabat, pemilik dan pelaku media, selebritis, maupun lainnya berusaha menjadikan diri kita sendiri mulia di sisi Allah dan memuliakan orang-orang yang mulia di sisi Allah.*

Abdullah al-Mustofa, penulis adalah kolumnis hidayatullah.com dan kandidat Master Studi Al-Qur'an di IIUM (International Islamic University Malaysia)

http://hidayatullah.com/read/16698/29/04/2011/menjadi-mulia-dengan-memuliakan-diri-di-hadapan-allah-.html

Wednesday, April 20, 2011

Jadikanlah Qiro’atul Qur’an sebagai Life Style Anda!

Oleh: Abdullah al-Mustofa*

“Maca Qur’an angen-angen sak maknane” (Membaca Qur’an dengan merenungkan maksudnya) adalah salah satu obat hati. Begitulah sepenggal teks lagu religi klasik berbahasa Jawa “Tombo Ati” menasehati. Hati yang sedih, gelisah, takut (kepada selain Allah), marah dan kuatir memerlukan obat. Hati yang tidak ridho, tidak puas, tamak, iri, dengki dan hasad juga membutuhkan obat. Salah satu obat mujarab yang telah ditawarkan Islam adalah dengan membaca Al-Qur’an dengan merenungkan maksud kandungan Al-Qur’an.

Namun sayangnya, ada sebagian umat Islam yang jarang bahkan sama sekali tidak pernah memanfaatkan obat yang telah diberikan penciptanya dan lebih memilih menggunakan beragam obat lainnya hasil karya ciptanya sendiri untuk mengobati hatinya, meskipun tanpa disadari sebenarnya pada kenyataannya obat-obat tersebut tidak atau kurang mujarab, atau efektif untuk sementara waktu saja. Salah satu obat yang seringkali mereka gunakan adalah hiburan dengan segala bentuk dan jenisnya baik yang bernuansa religi maupun yang tidak.

Hiburan Sebagai Obat Hati dan Pedoman Hidup
Di jaman yang sarat dan marak dengan hiburan yang semakin beragam jenis dan bentuknya, serta bisa didapat dengan mudah dan murah seperti sekarang ini hiburan tidak lagi sekedar berfungsi sebagai tontonan tapi telah menjadi kebutuhan, bahkan telah menjadi tuntunan. Menghibur diri dengan dan mendapatkan pedoman hidup dari hiburan telah menjadi gaya hidup (bahkan gaya hidup utama) manusia modern apapun ras dan agamanya tanpa terkecuali yang beragama Islam.

Sepanjang sejarahnya, manusia telah dan selalu mencari, menciptakan dan memanfaatkan hiburan untuk mengobati hatinya yang sedih, takut, kuatir, gelisah dan marah agar hatinya senang, bahagia, tenang dan tentram. Hingga di jaman ini, manusia juga memanfaatkan hiburan sebagai referensi untuk mendapatkan pedoman hidup dalam mengobati hatinya, menjalani kehidupan dan menyelesaikan problematika hidupnya. Aktivitas tersebut telah menjadi aktivitas yang penting dan utama, serta tidak bisa ditinggalkan oleh manusia modern.

Perlakuan Tidak Wajar Terhadap Hiburan
Sudah tidak sulit lagi menyaksikan ada sebagian manusia yang telah memperlakukan hiburan melewati batas kewajaran dan fungsinya. Hiburan telah menjadi dan mendapatkan prioritas dalam hidup. Hiburan masih mendapatkan jatah waktu meskipun waktu sudah dirasakan sempit dan habis. Hiburan masih mendapatkan jatah tempat di hati dan pikiran meskipun hati dan pikiran sudah letih dan terasa sudah penuh dengan masalah-masalah hidup dan serasa tidak ada tempat untuk hal-hal lainnya.

Demikian pula perlakuan terhadap alat-alat hiburan. Alat-alat hiburan juga masih mendapatkan jatah tempat di rumah meskipun harus dipaksakan membelinya dan dipaksakan mendapatkan jatah tempat di rumah meskipun sudah sesak dengan segala perabot dan alat-alat elektronik seperti televisi dan sound system.

Acuh Tak Acuh Terhadap Al-Qur’an
Sedangkan kebalikannya, Al-Qur’an tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Al-Qur’an tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan hiburan. Bahkan Al-Qur’an kalah dibandingkan dengan hiburan. Al-Qur’an digeser oleh hiburan! Al-Qur’an tidak dipedulikan! Sangat mudah menemukan Muslim-Muslim di zaman ini yang bersikap acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an.

Acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an bukan berarti tidak menghargainya secara fisik saja seperti merobek atau memasukkannya ke lubang WC. Acuh tak acuh bisa berarti lebih memprioritaskan hiburan seperti lagu, musik dan film dibandingkan Al-Qur’an untuk mengobati hatinya dan untuk mendapatkan petunjuk dalam mengobati hatinya, menjalani kehidupan dan mengatasi problem kehidupan. Bisa berarti memprioritaskan lagu-lagu religi dalam bahasa Arab atau bahasa lainnya dibandingkan Al-Qur’an untuk dibaca secara “munfarid” atau “jama’ah” dengan harapan bisa mendapatkan pahala. Bisa berarti tidak atau kurang membaca, mempelajari dan mengamalkannya. Bisa berarti tidak atau kurang memberikan jatah perhatian, waktu, tempat di hati atau “sekedar” jatah tempat di rumah untuk Al-Qur’an. Dan juga bisa berarti salah dalam mengamalkannya seperti menjadikannya sebagai jimat atau jampi-jampi.

Memperlakukan Al-Qur’an Secara Wajar
Hal itu tidaklah patut untuk Muslim karena Al-Qur’an harus diperlakukan dengan wajar dan sesuai dengan peran dan fungsinya. Perlakuan yang wajar adalah dengan mengfungsikannya sebagai rujukan utama dalam mengobati hati, dan lebih umum lagi dalam menjalani kehidupan dan mengatasi segala problem hidup baik secara personal maupun komunal. Memperlakukannya secara wajar adalah dengan tidak meragukan kebenaran Al-Qur’an, tidak mencari petunjuk hidup selain dari yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, tidak menomorduakan Al-Qur’an dan tidak memprioritaskan selainnya, tidak menggantikan Al-Qur’an dengan hiburan atau lainnya. Memperlakukannya secara wajar adalah dengan cara membaca, mempelajari dan mengamalkan keseluruhan isi Al-Qur’an secara rutin dan tiada henti setiap saat dalam kehidupan. Dengan memperlakukannya secara wajar sesuai peran dan fungsinya tentu ada manfaat yang besar dan banyak yang akan diterima dan dirasakan oleh para pelakunya.

Manfaat Membaca Al-Qur’an
Dua di antara manfaat membaca Al-Qur’an adalah hati menjadi tenang dan gembira, dan mendapatkan dua macam petunjuk dari Allah. Dengan membaca Al-Qur’an hati menjadi tenang dan gembira karena Al-Qur’an adalah bacaan dzikir terbaik. Dengan kata lain, membaca Al-Qur’an merupakan cara terbaik mengingat Allah. Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.

Dengan membacanya, Allah memberikan ketenangan dan kegembiraan hati kepada para pembacanya dengan dua jalan. Pertama, Allah membuat hati para pembacanya menjadi tenang dan gembira secara langsung. Dan kedua, hati mereka menjadi tenang dan gembira setelah mengetahui berbagai informasi dari Al-Qur’an meliputi cara menghadapi hidup dan janji-janji Allah bagi mukmin yang sabar dan tawakal.

Allah berfiman yang artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]:23)

Allah berfiman yang artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]:28)

Allah berfiman yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.” (QS. Yunus [10]:57-58)

Dengan membaca Al-Qur’an para pembacanya juga akan mendapatkan dua macam petunjuk dari Allah. Jenis pertama adalah petunjuk yang langsung diberikan Allah berupa ilham yang dilhamkan ke dalam benak dan hatinya. Dan jenis kedua berupa berbagai ilmu dan informasi yang berharga, haq, valid, benar dan baik dari Al-Qur’an. Kedua petunjuk tersebut sangatlah penting dan bermanfaat dalam menghadapi kehidupan dengan segala problematikanya.

Allah berfiman yang artinya: “Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh [2]:2)

Allah berfiman yang artinya: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mu’min.” (QS. Fushilat [41]:44)
Allah berfiman yang artinya: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Naml [27]:77)

Allah berfiman yang artinya: “Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman.” (QS. An-Naml [27]:1-2)

Allah berfiman yang artinya: “Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS. Az-Zumar [39]:23)

Kesimpulan dan Harapan
Mengingat betapa besar manfaat dan betapa pentingnya aktivitas membaca Al-Qur’an, sudah sepatutnya dan sewajarnya setiap pribadi Muslim menjadikan aktivitas Qiro’atul Qur’an (membaca Al-Qur’an) sebagai life style (gaya hidup) dan aktivitas utamanya dalam kehidupan sehari-hari. Mengfungsikan Al-Qur’an sebagai bacaan, referensi, sarana hiburan dan penenang utama. Memberikan pada Al-Qur’an (lebih banyak) jatah waktu, jatah tempat di hati dan pikiran. Tidak membaca surat tertentu saja seperti Surat Yasin, dan ayat tertentu saja misalnya Ayat Kursy. Tidak membacanya di hari tertentu saja seperti hari Kamis malam. Tidak membacanya di bulan tertentu saja seperti Ramadhan. Tidak membacanya di kesempatan tertentu saja. Dan tidak membacanya pada acara tertentu saja seperti acara khataman Al-Qur’an.

Dengan menjadikan aktivitas Qiro’atul Qur’an sebagai life style, mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an seperti yang pernah dikuatirkan oleh Rasulullah saw. dan disebutkan ayat Al-Qur’an di bawah ini:

Allah berfiman yang artinya: “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqon [25 ]:30)
Sehingga kita tidak akan pernah menggantikan kitab suci kita dengan hiburan atau lainnya dalam berbagai sendi dan aktivitas kehidupan sehari-hari termasuk ketika beribadah dan ketika berada di manapun termasuk ketika berada di tempat ibadah  Na’udzubillah min dzalik!

Tips Menjadikan Qiro’atul Qur’an sebagai Life Style:
  1. Memasukkan aktivitas membaca dan mempelajari Al-Qur’an ke dalam skedul aktivitas dan program hidup.
  2. Membuat jadwal khusus untuk, dan menetapkan target waktu dan target juz atau surat dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
  3. Membuat kalender khusus yang memuat jadwal dan target (waktu dan juz/surat) membaca dan mempelajari Al-Qur’an, dan memberi tanda conteng pada kolom yang terdapat dalam kalender tersebut setiap hari dan setiap menyelesaikan satu juz atau surat.