Oleh: Abdullah al-Mustofa
SEBUAH sinetron berdasarkan kisah nyata dari Mesir beberapa hari yang lalu ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta tanah air. Sinetron tersebut mengisahkan seorang ibu yang diajak putranya pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah. Betapa bahagianya si anak karena ibunya dapat mengunjungi Tanah Suci. Tapi kebahagiannya itu berubah menjadi kesedihan tatkala ibunya berada di dalam kawasan Masjidil Haram tidak bisa melihat Ka’bah karena tidak bisa melihat apa-apa kecuali kegelapan.
Dia tidak putus asa. Dia tiada putus memohon kepada Allah swt agar Dia berkenan mengampuni dosa-dosa ibunya serta membuat ibunya bisa melihat Ka’bah. Namun Allah swt belum berkenan mengabulkan doa-doanya hingga saatnya harus kembali ke tanah air mereka. Dia pun tidak putus asa untuk mengajak ibunya untuk pergi ke Tanah Suci hingga lima kali umrah dan satu kali haji meskipun ternyata ibunya tetap mengalami hal yang sama, ibunya selalu mengalami kebutaan ketika berada di kawasan Masjidil Haram.
Di laman web onislam.com berbahasa Inggris ada seorang yang telah tiga kali melaksanakan haji dan berencana akan melaksanakan haji tahun ini mengajukan pertanyaan apa yang sebaiknya dia lakukan antara memenuhi keinginan diri sendiri dengan melaksanakan haji lagi dan memenuhi kebutuhan umat dengan jalan membantu meringankan beban umat Islam yang dirundung kemalangan.
Sunday, January 29, 2012
India-Centric: Kejahilan Melihat Islam dan Sejarah Islam Nusantara
oleh: Abdullah al-Mustofa
BERDASARKAN pandangan “India-Centric” para sejarawan berpendapat, Islam di Nusantara berasal dari India dan para pionir penyebar Islam di Nusantara adalah para pedagang India, demikian ungkap Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam ceramahnya pada acara “Special Lecture Series” yang diselenggarakan CASIS-UTM (Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization-University Teknologi Malaysia) di kampus internasional UTM Kuala Lumpur Malaysia beberapa waktu lalu.
Dalam bukunya “Historical Fact and Fiction” al-Attas mengatakan, “Historians have been unjustifiably skeptical and produced all sorts of conjectures without adducing positive proofs; conjectures in which the role of India dan Indians have been unduly magnified. They have been doing this order to fit their theory of the spread of Islam from India and Indians, an Islam already colored by Hindu-Buddist mode of thought and belief concordant with the autochthonous tradition of the Malay peoples, in such a way as to explain that the ground was prepared for the “easy” adaptation of Islam by the peoples of the Archipelago.” (hal. 148)
Para sejarawan berpendapat demikian hanya berdasarkan dugaan yang terlalu dibesar-besarkan tanpa mengemukakan bukti-bukti yang positif. Mereka mencari-cari pembenaran untuk mendukung teori mereka. Mereka melihat Islam “versi” India adalah faktor penyebab mengapa Islam datang lebih awal di Nusantara dan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Mereka mengatakan, Islam “versi” India yang telah terwarnai ajaran Hindu dan Budha memang sesuai dengan tradisi asli masyarakat Nusantara yang beragama Hindu dan Budha.
BERDASARKAN pandangan “India-Centric” para sejarawan berpendapat, Islam di Nusantara berasal dari India dan para pionir penyebar Islam di Nusantara adalah para pedagang India, demikian ungkap Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam ceramahnya pada acara “Special Lecture Series” yang diselenggarakan CASIS-UTM (Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization-University Teknologi Malaysia) di kampus internasional UTM Kuala Lumpur Malaysia beberapa waktu lalu.
Dalam bukunya “Historical Fact and Fiction” al-Attas mengatakan, “Historians have been unjustifiably skeptical and produced all sorts of conjectures without adducing positive proofs; conjectures in which the role of India dan Indians have been unduly magnified. They have been doing this order to fit their theory of the spread of Islam from India and Indians, an Islam already colored by Hindu-Buddist mode of thought and belief concordant with the autochthonous tradition of the Malay peoples, in such a way as to explain that the ground was prepared for the “easy” adaptation of Islam by the peoples of the Archipelago.” (hal. 148)
Para sejarawan berpendapat demikian hanya berdasarkan dugaan yang terlalu dibesar-besarkan tanpa mengemukakan bukti-bukti yang positif. Mereka mencari-cari pembenaran untuk mendukung teori mereka. Mereka melihat Islam “versi” India adalah faktor penyebab mengapa Islam datang lebih awal di Nusantara dan mudah diterima oleh masyarakat Nusantara. Mereka mengatakan, Islam “versi” India yang telah terwarnai ajaran Hindu dan Budha memang sesuai dengan tradisi asli masyarakat Nusantara yang beragama Hindu dan Budha.
Benarkah Nusantara Telah Dikenal di Jaman Nabi?
Hidayatullah.com—Benarkan pulau Sumatra telah dikenal oleh Rasulullah saw semasa hidup, serta telah dilalui dan disinggahi para pedagang dan pelaut Arab di masa itu? Pernyataan ini diungkap Prof. Dr. Muhammad Syed Naquib al-Attas di buku terbarunya “Historical Fact and Fiction”.
Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.
Kesimpulan Al-Attas ini berdasarkan inductive methode of reasoning. Metode ini, ungkap al-Attas, bisa digunakan para pengkaji sejarah ketika sumber-sumber sejarah yang tersedia dalam jumlah yang sedikit atau sulit ditemukan, lebih khusus lagi sumber-sumber sejarah Islam dan penyebaran Islam di Nusantara memang kurang.
Metode Feminisme dan Gender “Copy-Paste” Studi Bibel
Hidayatullah.com—Gerakan feminisme dan kesetaraan gender yang merambah ke dalam studi Islam tidak hanya terbatas pada masalah fiqh dan hadith saja, tetapi ia juga masuk dalam studi al-Qur'an.
Kesesatan paham gender, yang sering diusung tokoh liberal dengan menggunakan metode kritik sejarah umumnya diadopsi dari disiplin ilmu Kritik Bibel (Biblical criticism) yang digunakan dalam tradisi Kristen untuk mengkaji pertanyaan-pertanyaan teks, komposisi dan sejarah seputar Perjanjian Lama dan Baru.
Kesesatan paham gender, yang sering diusung tokoh liberal dengan menggunakan metode kritik sejarah umumnya diadopsi dari disiplin ilmu Kritik Bibel (Biblical criticism) yang digunakan dalam tradisi Kristen untuk mengkaji pertanyaan-pertanyaan teks, komposisi dan sejarah seputar Perjanjian Lama dan Baru.
Friday, September 9, 2011
Berapa Efektif Puasa Ramadhan Anda?
APAKAH selama Ramadhan ini ketika menikmati makanan di waktu sahur Anda ditemani program-program TV? Juga apakah selesai menyantap hidangan Anda masih menikmati hidangan yang disajikan TV hingga menjelang subuh? Jika ya, berarti puasa Ramadhan Anda tahun ini bisa dikatakan belum efektif. Bagaimana bisa? Apa hubungan menyaksikan TV di waktu sahur dengan efektifitas puasa Ramadhan?
Ramadhan adalah madrasah, sekolah atau training center gratis yang disediakan khusus oleh Allah swt. bagi orang-orang Mukmin untuk melatih sekaligus mencetak mereka menjadi pribadi yang lebih baik dibanding sebelum Ramadhan. Diharapkan setelah keluar dari bulan training center tersebut mereka memiliki sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan baik – baik yang bersifat vertikal maupun horizontal - yang belum dimiilki sebelum Ramadhan. Diharapkan setelah menjalani latihan selama Ramadhan, sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah mereka miliki meningkat intensitas, kualitas dan frekwensinya dibanding sebelum Ramadhan. Juga diharapkan setelah mengikuti pendidikan di sekolah Ramadhan mereka tidak lagi memiliki sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasan buruk yang dimilikinya sebelum Ramadhan.
Ada begitu banyak latihan di bulan Ramadhan. Di antara perbuatan baik yang dilatihkan oleh Allah swt. Di dalam Ramadhan adalah qiro’atul qur’an, sedekah, i’tikaf, sholat sunnah rowatib, sholat sunnah tarawih, bangun malam untuk beribadah dan bangun malam untuk makan sahur. Sedangkan sifat dan kebiasaan buruk yang harus dilatih di dalam Ramadhan untuk ditinggalkan antara lain adalah berdusta, mencela, ghibah, menyiakan-nyiakan waktu terutama waktu-waktu yang istimewa seperti waktu sahur, dan memAndang lawan jenis baik yang tertutup maupun yang terbuka auratnya dengan diiringi syahwat dan untuk tujuan memuaskan nafsu syahwat.
Jika sebelum Ramadhan seseorang tidak pernah atau jarang bangun malam, bulan Ramadhan melatih dan sekaligus mencetaknya menjadi pribadi yang senang, ringan, mudah dan terbiasa bangun malam di luar Ramadhan. Mengapa demikian? Karena selama bulan Ramadhan setiap Muslim yang wajib berpuasa disunahkan makan sahur agar mempunyai tenaga yang diperlukan untuk beraktivitas di pagi hingga menjelang berbuka puasa. Untuk bisa melaksanakan sunah tersebut, mau atau ogah-ogahan, berat atau ringan, dalam keadaan mengantuk atau tidak, mereka harus bangun di malam hari.
Waktu makan sahur yang afdhol adalah di akhir malam yakni waktu sahur. Mengakhirkan makan sahur adalah sunah Rasulullah saw. Dengan demikian setelah menjalani training tersebut selama satu bulan di dalam bulan Ramadhan diharapkan setiap Muslim menjadi terbiasa, mudah, ringan dan senang qiyamullail di sepertiga malam terakhir di bulan-bulan selain Ramadhan.
Waktu sahur adalah waktu emas, waktu yang istimewa. Sebuah hadits Qudsi menjelaskan keistimewaannya.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”
Dalam hadits lain Rasulullah saw, menyatakan keistimewaannya. ”Makan sahurlah kamu sekalian, karena di dalamnya terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna yang terkandung dalam kata keberkahan dalam hadits tersebut bukan hanya sekadar terbatas pada aktivitas makan dan minum saja dan pada makanan dan minumannya saja, namun juga pada amal ibadah lainnya yang dikerjakan pada waktu sahur seperti memohon ampun kepada Allah, sholat Lail dan qiro’atul Qur’an.
“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imran [3]:17)
Waktu sahur yang istimewa ini hanyalah milik orang-orang yang istimewa. Siapakah orang-orang yang istimewa tersebut? Mereka adalah orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berkeinginan menjadi orang bertaqwa atau meningkatkan derajat taqwa mereka. Hanya merekalah yang mampu memanfaatkan kesempatan emas tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran [3]:15)
Ayat kelima belas dari Surat Ali ‘Imran tersebut terdapat kalimat “orang-orang yang bertaqwa”. Kedua ayat tersebut di atas saling berkaitan dan satu kesatuan. Dengan demikian dapat disimpulkan, salah satu ciri orang bertaqwa adalah memohon ampun kepada Allah swt. di waktu sahur sepanjang tahun baik di dalam maupun di luar Ramadhan.
Sudah maklum bahwa taqwa adalah buah dari puasa Ramadhan. Taqwa adalah tujuan berpuasa di bulan Ramadhan. Jika Anda berkeinginan kuat puasa Ramadhan Anda berhasil sesuai dengan targetnya yaitu membentuk Anda menjadi orang yang bertaqwa atau meningkat derajat taqwa Anda, maka tentu Anda tidak menyia-nyiakan waktu sahur di bulan Ramadhan dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang sia-sia seperti menonton TV.
Selama Ramadhan ini, sudahkah kelihatan bahwa Anda punya keinginan kuat? Itu bisa Anda lihat sendiri. Apakah Anda mengisi waktu sahur Anda selama ini dengan beraneka macam ibadah seperti istighfar, dzikir, membaca al-Qur’an dan sholat Lail? Jika ya, selamat buat Anda. Namun jika Anda sekadar melakukan perbuatan-perbuatan yang tak ada gunanya bagi kehidupan agama dan akhirat Anda seperti menonton TV, berarti keinginan Anda patut diragukan dan dipertanyakan.
Setelah Ramadhan usai nanti akan terlihat efektifitas puasa Ramadhan Anda. Efektifitasnya bisa Anda lihat sendiri. Apakah di sebelas bulan ke depan Anda terbiasa, ringan, mudah dan senang bangun di malam hari untuk taqorrub ilallah? Ataukah Anda tidak terbiasa, berat, sulit dan tidak senang bangun di malam hari untuk taqorrub ilallah?
Atau Anda termasuk orang yang suka bangun malam, tapi untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa menolong Anda di alam barzah dan di kampung akhirat kelak seperti menonton TV?
Hanya Anda sendiri yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan sehingga masih ada kesempatan lagi untuk melatih diri kita menjadi orang-orang yang bertaqwa atau meningkat derajat taqwa kita. Amin.
Ramadhan adalah madrasah, sekolah atau training center gratis yang disediakan khusus oleh Allah swt. bagi orang-orang Mukmin untuk melatih sekaligus mencetak mereka menjadi pribadi yang lebih baik dibanding sebelum Ramadhan. Diharapkan setelah keluar dari bulan training center tersebut mereka memiliki sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan baik – baik yang bersifat vertikal maupun horizontal - yang belum dimiilki sebelum Ramadhan. Diharapkan setelah menjalani latihan selama Ramadhan, sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah mereka miliki meningkat intensitas, kualitas dan frekwensinya dibanding sebelum Ramadhan. Juga diharapkan setelah mengikuti pendidikan di sekolah Ramadhan mereka tidak lagi memiliki sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasan buruk yang dimilikinya sebelum Ramadhan.
Ada begitu banyak latihan di bulan Ramadhan. Di antara perbuatan baik yang dilatihkan oleh Allah swt. Di dalam Ramadhan adalah qiro’atul qur’an, sedekah, i’tikaf, sholat sunnah rowatib, sholat sunnah tarawih, bangun malam untuk beribadah dan bangun malam untuk makan sahur. Sedangkan sifat dan kebiasaan buruk yang harus dilatih di dalam Ramadhan untuk ditinggalkan antara lain adalah berdusta, mencela, ghibah, menyiakan-nyiakan waktu terutama waktu-waktu yang istimewa seperti waktu sahur, dan memAndang lawan jenis baik yang tertutup maupun yang terbuka auratnya dengan diiringi syahwat dan untuk tujuan memuaskan nafsu syahwat.
Jika sebelum Ramadhan seseorang tidak pernah atau jarang bangun malam, bulan Ramadhan melatih dan sekaligus mencetaknya menjadi pribadi yang senang, ringan, mudah dan terbiasa bangun malam di luar Ramadhan. Mengapa demikian? Karena selama bulan Ramadhan setiap Muslim yang wajib berpuasa disunahkan makan sahur agar mempunyai tenaga yang diperlukan untuk beraktivitas di pagi hingga menjelang berbuka puasa. Untuk bisa melaksanakan sunah tersebut, mau atau ogah-ogahan, berat atau ringan, dalam keadaan mengantuk atau tidak, mereka harus bangun di malam hari.
Waktu makan sahur yang afdhol adalah di akhir malam yakni waktu sahur. Mengakhirkan makan sahur adalah sunah Rasulullah saw. Dengan demikian setelah menjalani training tersebut selama satu bulan di dalam bulan Ramadhan diharapkan setiap Muslim menjadi terbiasa, mudah, ringan dan senang qiyamullail di sepertiga malam terakhir di bulan-bulan selain Ramadhan.
Waktu sahur adalah waktu emas, waktu yang istimewa. Sebuah hadits Qudsi menjelaskan keistimewaannya.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang yang memohon ampun kepadaKu, maka akan Aku ampuni”
Dalam hadits lain Rasulullah saw, menyatakan keistimewaannya. ”Makan sahurlah kamu sekalian, karena di dalamnya terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna yang terkandung dalam kata keberkahan dalam hadits tersebut bukan hanya sekadar terbatas pada aktivitas makan dan minum saja dan pada makanan dan minumannya saja, namun juga pada amal ibadah lainnya yang dikerjakan pada waktu sahur seperti memohon ampun kepada Allah, sholat Lail dan qiro’atul Qur’an.
“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imran [3]:17)
Waktu sahur yang istimewa ini hanyalah milik orang-orang yang istimewa. Siapakah orang-orang yang istimewa tersebut? Mereka adalah orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berkeinginan menjadi orang bertaqwa atau meningkatkan derajat taqwa mereka. Hanya merekalah yang mampu memanfaatkan kesempatan emas tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran [3]:15)
Ayat kelima belas dari Surat Ali ‘Imran tersebut terdapat kalimat “orang-orang yang bertaqwa”. Kedua ayat tersebut di atas saling berkaitan dan satu kesatuan. Dengan demikian dapat disimpulkan, salah satu ciri orang bertaqwa adalah memohon ampun kepada Allah swt. di waktu sahur sepanjang tahun baik di dalam maupun di luar Ramadhan.
Sudah maklum bahwa taqwa adalah buah dari puasa Ramadhan. Taqwa adalah tujuan berpuasa di bulan Ramadhan. Jika Anda berkeinginan kuat puasa Ramadhan Anda berhasil sesuai dengan targetnya yaitu membentuk Anda menjadi orang yang bertaqwa atau meningkat derajat taqwa Anda, maka tentu Anda tidak menyia-nyiakan waktu sahur di bulan Ramadhan dengan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang sia-sia seperti menonton TV.
Selama Ramadhan ini, sudahkah kelihatan bahwa Anda punya keinginan kuat? Itu bisa Anda lihat sendiri. Apakah Anda mengisi waktu sahur Anda selama ini dengan beraneka macam ibadah seperti istighfar, dzikir, membaca al-Qur’an dan sholat Lail? Jika ya, selamat buat Anda. Namun jika Anda sekadar melakukan perbuatan-perbuatan yang tak ada gunanya bagi kehidupan agama dan akhirat Anda seperti menonton TV, berarti keinginan Anda patut diragukan dan dipertanyakan.
Setelah Ramadhan usai nanti akan terlihat efektifitas puasa Ramadhan Anda. Efektifitasnya bisa Anda lihat sendiri. Apakah di sebelas bulan ke depan Anda terbiasa, ringan, mudah dan senang bangun di malam hari untuk taqorrub ilallah? Ataukah Anda tidak terbiasa, berat, sulit dan tidak senang bangun di malam hari untuk taqorrub ilallah?
Atau Anda termasuk orang yang suka bangun malam, tapi untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bisa menolong Anda di alam barzah dan di kampung akhirat kelak seperti menonton TV?
Hanya Anda sendiri yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.
Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan sehingga masih ada kesempatan lagi untuk melatih diri kita menjadi orang-orang yang bertaqwa atau meningkat derajat taqwa kita. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)